Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Labels

Labels

agama (10) ekonomi (20) Entertaiment (20) Hiburan (13) Internasional (10) Kesehatan (16) Movie (34) Nasional (69) politik (224) sejarah (15) Slider (163) Sports (2) zionisme/conspiracy theory (25)

Thursday, August 17, 2017

Kanker Bukan Penyakit? (2)

Indonesian Free Press -- Salah satu kasus salah persepsi yang membuat vatal terjadi pada tahun 1940-an di Australia. Beberapa kali terjadi kasus kematian domba setelah domba-domba tersebut memakan tanaman 'fuschia' liar yang mengandung banyak enzim beta-glucosidase. Tanpa mengetahui penyebab sebenarnya dan menyangka penyebab kematian-kematian ternak itu adalah racun sianida dalam Vitamin B-17, para ahli botani kemudian mengembangkan varietas pakan ternak yang sama sekali tidak mengandung Vitamin B-17. Akibatnya, terjadi kekurangan vitamin B-17 besar-besaran dalam makanan kita.

Sebagai gambaran pentingnya Vitamin B-17 di dalam makanan bisa dijelaskan dengan kesehatan orang-orang eskimo di kutub utara. Meski makanan utama mereka adalah daging dan relatif jarang mengkonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan, mereka hampir tidak mengenal penyakit kanker dan jantung. Ternyata penyebabnya adalah daging yang mereka konsumsi, umumnya daging rusa kutub, ternyata banyak mengandung Vitamin B-17 yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang dimakan rusa. Orang eskimo juga mengkonsumsi buah cherry yang banyak mengandung Vitamin B-17, meski hanya tumbuh dalam musim tertentu dalam setahun.


Saat ini makanan 'modern' yang dikonsumsi orang-orang Eropa, Amerika dan Australia rata-rata hanya mengandung 2 miligram Vitamin B-17, sementara orang-orang Eskimo mengkonsumsi 250 hingga 3.000 miligram Vitamin B-17 setiap hari. Inilah yang menjelaskan mengapa penderita angka penyakit kanker orang-orang Eskimo sangat kecil, sementara angkanya di dunia 'modern' justru tinggi.

Di masa lalu, dan ketika penyakit kanker hampir belum dikenal, orang-orang Barat mengkonsumsi roti yang terbuat dari gandum yang kaya dengan Vitamin B-17. Mereka juga mengkonsumsi buah-buahan plum, greengages, cherri, apel, aprikot dan buah-buahan lain dari keluarga Rosaceae yang kaya Vitamin B-17. Ibu-ibu menghancurkan biji-bijian dari buah-buahan itu dan mencampurkannya dengan selai dan menyimpannya sebagai makanan cadangan. Semuanya itu kaya dengan Vitamin B-17. Sedangkan di daerah Tropis seperti Indonesia, vitamin B-17 banyak terkandung di ubi kayu (cassava atau tropical manioc). Penelitian membuktikan bahwa suku-suku Indian di Amerika Selatan atau suku-suku pedalaman di Filipina yang menjadikan ubi kayu sebagai sumber makanan utamanya, hampir tidak mengenal penyakit kanker dan jantung.

Sehubungan dengan Vitamin B-17 dan kaitannya dengan penyakit kanker, Dr. Krebs berpendapat lebih jauh lagi. Ia berpendapat bahwa keberadaan vitamin B-17 yang cukup di dalam tubuh, sudah cukup untuk membuat tubuh kebal terhadap ancaman kanker. Bahkan ketika lingkungan dan makanan sudah dipenuhi dengan faktor-faktor penyebab kanker sekalipun.

Menurut Dr. Krebs apa yang disebut dengan 'carcinogens' hanyalah bentuk kekurangan Vitamin B-17 dengan dampak yang membahayakan. Hal itu sama dengan kekurangan Vitamin C yang menimbulkan sariawan dan kurap. Dalam waktu singkat, bahkan dalam hitungan waktu jam, penyakit sariawan pun sembuh setelah sejumlah besar vitamin C dimasukkan ke dalam tubuh.

Namun karena kampanye negatif tentang Vitamin B-17 Laetrile dan sulitnya mendapatkan Vitamin B-17 alami membuat banyak penderita kanker menjadikan substansi ini sebagai cadangan terakhir, jauh setelah penyakit telah sangat parah akibat pembakaran radiasi atau setelah racun 'chemotherapy' merusak sel-sel tubuh yang sehat.(ca)

No comments:

Post a Comment